Setiap waktu kita akan selalu berhadapan dengan masalah. Tugas kita menyikapinya secara benar agar masalah itu tidak berlanjut jadi masalah yang lebih besar. Hasilnya? serahkan kepada Allah Azza wa Jalla. Kadangkala seseorang terpaku pada masalah itu sendiri alih-alih mengambil sikap dan bertindak yang benar terhadap masalah tersebut. Dengan kata lain, persoalan sebenarnya bukan terletak pada masalah itu, tetapi bagaimana cara pandang serta penyikapan dia terhadap masalah.
Sebuah analogi dapat menyederhanakan hal ini. Seekor kecoa tiba-tiba menempel di lengan baju seorang perempuan yang sedang berada di restoran pada waktu makan siang. Kaget, jijik, takut, spontan dia berteriak histeris dan mengibas-ngibaskan lengannya sejadi-jadinya. Pokoknya dia harus menyingkirkan kecoa itu segera.
Lalu kecoa pun terlempar ke rambut perempuan lainnya. Tak kalah heboh reaksinya begitu tahu ada kecoa di rambutnya. Singkat cerita, kecoa itu berpindah ke baju seorang pelayan di restoran tersebut. Dengan tenang ia ambil kecoa itu lalu membuangnya ke luar restoran. That's it. As simple as it.
Begitulah. ketika berhadapan dengan permasalahan, baik ringan maupun berat, banyak orang yang terfokus pada masalah. Dia menjadi reaksioner, spontan menunjukkan reaksi terhadap masalah. Kaget, sedih, senang, berbunga-bunga, mengharu biru, menghayati betul masalahnya. Tetapi ia tidak segera sadar harus menyikapi masalah itu dengan cara yang tepat.
Ia lupa, abai, atau lalai dengan tujuan dari masalah itu menghampirinya. Adakah tujuannya? Pasti. Allah menciptakan siang dan malam, suka dan duka, lapang dan sempit, agar menjadi ladang amal bagi manusia. Jadi masalah itu jika mau melihatnya dengan jernih, sebenarnya adalah peluang untuk beramal. (lihat QS Al-Mulk)
Bukankah urusan seorang mukmin itu amat menakjubkan? Jika diberi nikmat ia bersyukur, dan jika mendapat musibah ia bersabar, dan keduanya baik baginya. Ya, inilah kawan. Inilah sesungguhnya maksud Allah memberi manusia beraneka rupa masalah. Memberi kesempatan manusia untuk beramal shalih.
Pertama, bagi yang bersangkutan yaitu bersyukur atau bersabar. Ini sudah menjadi amal karena ia melakukan apa yang dituntunkan Allah dan Rasul-Nya. Bukankah ia hamba yang taat? Bukankah ia mengamalkan ajaran yang diyakini kebenarannya? Yang kedua, bagi pihak lain, masalah seseorang bisa menjadi ladang amal baginya. Yang lapang mau menolong yang sedang dilanda kesempitan, yang kuat menolong yang lemah, yang mampu meringankan beban saudaranya yang lain, saling membantu untuk memecahkan persoalan.
Ketiga, dengan masalah itu seseorang mendapat kesempatan untuk melatih dirinya menjadi lebih baik. Lebih baik dalam iman dan takwanya, lebih baik dalam kapasitasnya, lebih baik dalam hubungannya dengan manusia lainnya, dan lebih baik mentalnya. Ibarat atlit olimpiade, makin sering berlatih ia akan lebih siap untuk maju melawan pesaing-pesaingnya yang tentu saja bukan kelas ecek-ecek. Perlu latihan setiap hari, perlu menempa diri dengan berbagai persiapan dan kesiapan menghadapi segala kemungkinan. Hasilnya? Tentu saja tidak untuk dilihat hari ini juga.
Begitulah berbagai masalah dan persoalan yang menimpa akan membentuk pribadi kita; dari sebongkah batu biasa menjadi intan permata. Yang kelak memiliki nilai tak terhingga karena kekuatannya, karena ketahanannya, dan karena kebagusannya. Kelak, kawan, kau akan menemukan dirimu sebagai intan permata. Saat kau bertekad tak akan menyerah, saat kau mau memperbaiki setiap kesalahanmu. Kelak, akan kau syukuri semua pahit yang telah kau telan itu, jalan hidup yang berliku, dan perih luka yang rasanya tak juga terlupakan. Insya Allah, semoga tak lama.
Komentar
Posting Komentar