Langsung ke konten utama

Mereview Kembali Bidang Usaha

Belajar tiada henti. Sepertinya itulah yang harus aku dan suami lakukan. Dan memang sudah digariskan Allah bahwa pembelajaran itu akan berlangsung sepanjang hidup, dari buaian hingga ling lahat. Minal mahdi ilal lahdi.  Dan menikmati proses belajar itu, sepahit apapun, akan lebih menyenangkan daripada terus merutuki kegagalan demi kegagalan. 

Alhamdulillah Allah telah membuka cakrawala suamiku, dan aku tentunya, agar memandang luas ke depan, ke samping kanan dan kiri. Lalu kutemukan sarana belajar. Di sana kami bertemu dengan teman-teman yang sama-sama mau belajar. Belajar bisnis atau usaha ini memang enggak cuman teori. Dikasih pelajaran sebaik apapun, kalau enggak dipraktikkan ya sama saja bohong. No besar, alias nggak ngefek. Cuma sebatas pengetahuan saja. Padahal usaha itu soal ikhtiar, bagaimana menjalankan langkah-langkah taktis/strategis yang sudah diberikan mentor atau coach.

Banyak materi yang kami terima selama mengikuti kelas GENPRO. Sebagai angkatan pertama, kami bersyukur diberi kesempatan untuk belajar sementara tidak semua teman bisa mengikuti. Alhamdulillah. Materi yang diberikan sangat runtut dan aplikatif. Mulai dari mental bisnis sampai urusan membuat laporan keuangan. Ssttt... Ada materi soal.mrk up juga lho. Tapi eittt... Bukan dalam artian negatif, alias ke arah korupsi seperti yang selama ini diketahui publik.

Mark up di sini adalah bagaimana kita menaikkan harga jual agar diperoleh sejumlah keuntungan dengan memperhatikan berbagai cost yang dapat diperkirakan. Dan ini wajar dalam dunia usaha. Dan setelah menerima pelajaran itu, rupanya oh rupanya, nilai jual yang selama ini kita pakai, ternyata belum memenuhi beberapa aspek dalam mark up. Walhasil ya... Maklum akhirnya jika keuntungan usaha seringkali habis cuma untuk kebutuhan harian dan modal sana-sini. Istilahnya, jika tidak ada mark up artinya pelaku usaha hanya kerja bakti. Hmm....

Ada pula soal pencatatan arus kas keuangan. Soal satu ini, sampai sekarang pun belum skses terlaksana. Selama ini kita mencatat seadanya. Penghasilan berapa, dapat laba berapa, berapa yang harus dikeluarkan untuk bayar pegawai dan modal usaha. Lagi-lagi kami harus lebih banyak belajar soal yang satu ini. Karena konon laporan keuangan adalah salah satu indikator untuk melihat bagaimana sebuah usaha berjalan. Untung atau tidak, bagaimana perkembangannya, semua itu bisa diketahui hanya dengan melihat laporan keuangan. Dan tentu sja laporan keuangan yang dimaksud adalah yang menggunakan standar akuntansi. Fyuuuhhh... #usapkeringet.

Aku sendiri baru serius mempelajari bagaimana membuat pencatatan transaksi keuangan secara akuntansi itu beberapa hati lalu. Kebetulan ada share materi ini di grup wa. Dan busyettt... Ribet banget ternyata. Setiap transaksi harus dicatat dalam papan angka. Masuk aktiva sebagai apa, masuk passiva sebagai apa. Hohoho... Ini peljaran SMA doeloe... Lemes jadinya, mikir selama ini kita mencatat transaksi hanya seadanya. Dan kalau harus diulang pencatatannya, bisa dibayangkan ribet dan panjangnya waktu yang dibutuhkan? Hmm.. Sepertinya kita mau langsung short cut meloncat ke transaksi yang baru saja deh, untuk pencatatan arus kas. 

Well itu belum semua dipelajari. Ibarat lagi belajar, belum selesai ngerjain PR ama tugas-tugasnya

Oke, segitu dulu ya prens, ini tulisan ngasal yang isinya curcol melulu hehe... Sembari manfaatin waktu nunggu lappy yang ngehang. Thx for your attention. Jangan lupa tinggalkan jejak ya.

Salam


Komentar

Postingan populer dari blog ini

me time, yuk

Melakukan hobi atau kesenangan itu akan membawa hiburan tersendiri di tengah kesibukan sehari-hari, baik yang bekerja di kantor, mengelola bisnis, atau mengurus rumah tangga. Semuanya perlu relaksasi. Caranya yaitu dengan meluangkan waktu khusus untuk menyegarkan suasana dan menghindari kejenuhan.

Mengubah dari Dalam

Mengapa orang sulit berubah? Keadaan, kondisi lingkungan, dan keluarga adakalanya menuntut seseorang untuk berubah. Seorang istri dituntut lebih bertanggung jawab pada rumahnya. Dan sumi lebih bertanggung jawab atas keluarga, ya nafkah, ya pendidikan keluarga. Seorang pemimpin menuntut bawahannya mengikuti apa yang dia tetapkan. Barangkali ia juga telah mendapat tugas dan target tertentu dari perusahaan, kemudian dia breakdown dan trrjemahkan dalam tugas-tugas teknis untuk bidang di bawah tanggung jawabnya. Tetapi mengharapkan orang berubah sesuai keinginan kita, itu tidak semudah membalik telapak tangan, bung. Beberapa waktu lalu saya bergabung dengan sebuah channel belajar di telegram. Di sana saya belajar tentang bagaimana konsep rezeki dalam bahasa yang mudah dimengerti. Sebagian analoginya sangat logis, tanpa meninggalkan keyakinan bahwa rezeki datang dari Allah swt. Justru materi pembelajaran di channel tersebut menuntun untuk makin berserah diri dan berbuat kebaikan yang akan me...