Langsung ke konten utama

Mengubah dari Dalam



Mengapa orang sulit berubah? Keadaan, kondisi lingkungan, dan keluarga adakalanya menuntut seseorang untuk berubah. Seorang istri dituntut lebih bertanggung jawab pada rumahnya. Dan sumi lebih bertanggung jawab atas keluarga, ya nafkah, ya pendidikan keluarga.
Seorang pemimpin menuntut bawahannya mengikuti apa yang dia tetapkan. Barangkali ia juga telah mendapat tugas dan target tertentu dari perusahaan, kemudian dia breakdown dan trrjemahkan dalam tugas-tugas teknis untuk bidang di bawah tanggung jawabnya. Tetapi mengharapkan orang berubah sesuai keinginan kita, itu tidak semudah membalik telapak tangan, bung.

Beberapa waktu lalu saya bergabung dengan sebuah channel belajar di telegram. Di sana saya belajar tentang bagaimana konsep rezeki dalam bahasa yang mudah dimengerti. Sebagian analoginya sangat logis, tanpa meninggalkan keyakinan bahwa rezeki datang dari Allah swt. Justru materi pembelajaran di channel tersebut menuntun untuk makin berserah diri dan berbuat kebaikan yang akan membuat rezeki tidak tersumbat lagi. Member diajari cara merayu Allah, memuliakan syariatnya, mensyukuri nikmat-Nya sekaligus instropeksi dan terus memperbaiki diri.

Salah satunya yang saya ambil pelajaran adalah mengubah pola pikir. Kita benerin dulu deh pola pikir kita tentang rezeki itu... Kita benerin dulu deh pandangan kita soal orang lain... Kita benerin dulu deh prasangka kita sama Allah... Dan sebagainya.

Bagaimana lingkungan dan dunia kita akan positif sedang pikiran kita negatif melulu? Bagaimana kita mau berubah jika persepsi dan pikiran kita masih sama saja? Padahal dunia terus berubah, lingkungan dan kondisi terus berubah, teknologi telah turut andil mengubah semua itu. 

Ibarat layar proyektor yang menampilkan file apa yang diperintahkan komputer atau laptop, begitulah analogi antara pikiran dan dunia di sekitar kita. Kalo kita berpikir positif, insya Allah lingkungan merespon positif. Kalau toh kejadiannya sesuatu yang negatif, yg tidak menyenangkan, tetapi drngan pikiran yang positif dan hudnuzan billah itu semua akan baik. Selalu ada hikmah dan pelajaran dalam setiap kejadian.

Saya teringat dengan nasihat seorang guru. Apapun yang terjadi, terus husnuzan saja sama Allah. Yang baik pasti baik. Yang kelihatannya buruk pasti ada baiknya. Seperti dalam QS Al-Baqarah ayat 216. 

Komentar